Secara umum dalam dunia sastra, psikologi sastra juga memandang bahwa sastra merupakan hasil kreativitas pengarang yang menggunakan media bahasa melalui karya. Roekhan (dalam Aminuddin, 1990:88-91) mengatakan karya sastra merupakan hasil ungkapan kejiwaan seorang pengarang, yang berarti di dalamnya ternuansakan suasana kejiwaan sang pengarang, baik suasana pikir maupun suasana rasa/emosi. Untuk mengkaji hal tersebut diperlukan teori psikologi sastra.
Psikologi sastra merupakan gabungan dari teori psikologi dengan teori sastra. Psikologi membahas tentang kejiwaan seseorang, sedangkan sastra membahas karya. Sastra sebagai “gejala kejiwaan” di dalamnya terkandung fenomena-fenomena kejiwaan yang nampak lewat perilaku tokoh-tokohnya, sehingga karya teks sastra dapat dianalisis dengan menggunakan pendekatan psikologi. Menurut Roekhan (dalam Endraswara, 2008:97—98), untuk mengkaji psikologi sastra pada karya dapat dilakukan dengan tiga pendekatan. Adapun pendekatan psikologi tersebut yaitu pendekatan tekstual, pendekatan reseptif-pragmatik, dan pendekatan ekspresif.
Pada pendekatan tekstual, psikologi sastra menganalisis karya sastra dengan mempertimbangkan aspek atau keterlibatan psikologi atau kejiwaan. Sedangkan reseptif-pragmatik mengkaji tujuan diciptakannya karya sastra tersebut atau makna diciptakannya karya. Pendekatan ekspresif, mengkaji tentang kejiwaan yang dialami oleh pengarang.
Bicara masalah psikologi maka tidak terlepas dengan kepribadiaan seseorang. Menurut Freud (dalam Suryabrata, 2012:124), kepribadian terdiri atas tiga aspek, yaitu: id, ego, dan superego. Berikut penjelasan terkait ketiga hal tersebut.
1. Id
Id berada di alam bawah sadar dan sama sekali tidak ada kontak dengan realitas. Id tergambar dari pikiran-pikiran liar seseorang yang berasal dari alam bawah sadar. Secara sederhana Id dapat dikatakan sebagai nafsu atau keinginan.
2. Ego
Ego menghasilkan perilaku yang didasarkan atas prinsip kenyataan. Ego berpegang pada prinsip kenyataan dan bereaksi dengan proses sekunder. Tujuan prinsip kenyataan adalah mencari objek yang tepat untuk mereduksikan tegangan yang timbul dalam organisme. Ego dipandang sebagai aspek eksekutif atau pengelolaan kepribadian karena mengontrol jalan yang ditempuh dan memilih kebutuhan-kebutuhan yang dapat dipenuhi (Suryabrata, 2012: 126). Secara sederhana ego dapat dikatan sebagai cara untuk merealisasikan id.
3. Superego
Superego mengacu pada moralitas dan aspek sosial kepribadian. Fungsinya menentukan apakah sesuatu itu benar atau salah, dan pantas atau tidak, dengan demikian pribadi dapat bertindak sesuai dengan moral masyarakat (Suryabrata, 2012: 127). Secara sederhana superego dapat diartikan sebagai hasil dari adanya ego. Jika tokoh dapat mempertimbangkan dengan baik maka tokoh sesuai dengan moral masyarakat.
Baca juga
1. Pengertian sastra
2. Analisi Psikologis Tokoh dalam Cerpen "Kue Itu Memakan Ayahku Karya Guntur Alam
Sumber
Aminuddin. 1990. Kajian Tekstual dalam Psikologi Sastra. Sekitar Masalah Sastra. Beberapa Prinsip dan Model Pengembangannya. Malang: Yayasan Asah Asih Asuh Malang.
Endraswara,Suwardi. 2008. Metode Penelitian Psikologi Sastra. Yogyakarta: Media Pressindo.
Muhardi dan Hasannuddin. 1992. Prosedur Analisis Fiksi. Padang: IKIP Padang Press.
Ramdhansyah. 2011. Paham dan Terampil Berbahasa dan Bersastra Indonesia. Bandung: Dian Aksara Press.
Semi, M. Atar. 1993. Metode Penelitiann Sastra. Bandung: Penerbit ANGKASA.
Suryabrata, Sumadi. 2012. Psikologi Kepribadian. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Sumber Foto
Qolbunhadi.com
.jpg)