Menjadikan laut sebagai masa depan ekonomi bahari Pariaman




Pagi itu ombak mengalun tenang menyapu karang meninggalkan sepenggal buih di ujung pasir putih di tengah birunya lautan. Saat itu akar pohon yang menjuntai mengayun tenang mengiringi hembusan angin ber-uap-kan garam.

Dari kedalaman birunya lautan, pada Sabtu (15/8) belasan penyelam mendirikan tiang dan mengibarkan bendera Merah Putih meski arus menghempas tak berkesudahan. Sekitar satu jam mereka hanya ditemani bias cahaya mentari yang mengilatkan sisik ikan saat bermain di antara susunan karang.

Adalah Pulau Bando, salah satu pulau yang masuk ke dalam Kawasan Taman Wisata Perairan (TWP) Pieh dan sekitarnya, Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat (Sumbar). Kawasan itu merupakan daerah konservasi yang dikelola oleh Loka Kawasan Konservasi Perairan Nasional (LKKPN) Pekanbaru dan sekarang dibuka untuk pariwisata.

Pulau yang memiliki luas sekitar delapan hektare persegi tersebut memiliki pasir putih yang halus dan air laut yang jernih serta ombak yang relatif tenang. Alam di pulau itu pun masih asri dan terdapat banyak pohon ukuran besar dengan akar menjuntai sehingga menarik sebagai latar swafoto.

Untuk menuju Pulau Bando hanya butuh waktu berlayar dengan kapal sekitar satu jam dari Kota Pariaman, Sumbar yang dalam perjalanan terkadang wisatawan dapat menyaksikan kawanan lumba-lumba berpacu di permukaan.

Koordinator Satuan Wilayah Kerja TWP Pieh dan sekitarnya Yuwanda Ilham mengatakan TWP Pieh dan sekitarnya tidak saja terdapat terumbu karang dan kawanan lumba-lumba, namun juga merupakan tempat penangkaran penyu semi alami.

"Kami juga melihat paus, namun kami belum mengetahui jenis apa. Biasanya setiap jenis itu kami data," kata dia.

Ia menyampaikan dibukanya kawasan konservasi sebagai objek wisata merupakan salah satu kebijakan presiden untuk meningkatkan ekonomi masyarakat. Namun dalam pelaksanaannya wisatawan harus mengikuti aturan yang diterapkan dan ditambah dengan penerapan protokol kesehatan.

Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kota Pariaman Hendri mengatakan Pariaman memiliki banyak potensi wisata bahari yang belum banyak diketahui oleh masyarakat luas. 

Ada pun pulau di Kota Pariaman dan sekitarnya yang dibuka untuk pariwisata massal yaitu Pulau Angso Duo, Pulau Kasiak dan Pulau Ujuang sedangkan Pulau Bando dan lainnya masih bersifat minat khusus.

Meskipun sejumlah pulau tersebut dibuka untuk wisatawan namun saat ini pulau yang selalu diminati yaitu Pulau Angso Duo. Tercatat sekitar 600 wisatawan dari berbagai daerah mengunjungi Pulau Angso Duo yang dihitung semenjak dibukanya objek wisata oleh pemerintah setempat pasca-diterapkannya adaptasi kebiasaan baru hingga Agustus.

Oleh karena itu, guna mengenalkan potensi tersebut Pemerintah Kota Pariaman bersama sejumlah organisasi serta pihak lainnya yang tergabung ke dalam Komunitas Merah Putih Pariaman (KMPP) melaksanakan Ekspedisi Merah Putih III pada Sabtu (15/8). 

Ekspedisi tersebut tidak saja mengibarkan bendera yang tentu bermuatan patriotisme dan mempromosikan wisata bahari namun juga edukasi lingkungan dengan penanaman terumbu karang. 


Langkah untuk memanfaatkan kekayaan bahari di Pariaman

Pada peringatan Hari Nusantara yang diselenggarakan di Pariaman Desember 2019 Walikota Pariaman Genius Umar menyampaikan bahwa masa depan daerah itu ada di laut sehingga segala potensinya harus dikelola dengan baik.

Untuk itu Genius merencanakan pembangunan sarana prasarana di kawasan laut di antaranya kolam renang laut terapung, arena pemancingan, membangun pelabuhan, dan meminta penataan ulang konsep pengelolaan penangkaran penyu agar lebih modern dan milenial. 

Pemko Pariaman bersama Pemerintah Provinsi Sumbar juga berencana mengembangkan Pulau Tangah dengan ciri khas burung yang merupakan karakteristik yang dimiliki pulau tersebut. Lalu Pulau Angso Duo untuk wisata massal, dan Pulau Kasiak dimanfaatkan untuk wisata selam.

Dari semua rencana tersebut setidaknya pembangunan pelabuhan sudah mulai menunjukkan titik terang dan telah adanya studi kelayakan. Pelabuhan tersebut tidak saja sebagai langkah untuk memaksimalkan potensi wisata bahari namun juga untuk menghubungkan Pulau Sumatera dengan Mentawai serta pulau lainnya.

Rencana tersebut pun didukung dengan adanya hibah kapal dari pemerintah pusat dengan nama KM. Banawa Nusantara 88. Rencananya kapal yang tiba di Pariaman sekitar akhir tahun lalu tersebut disewakan kepada wisatawan melalui pihak ketiga baik berupa koperasi maupun perusahaan daerah.

Kepala Dinas Perhubungan Kota Pariaman Yanrileza mengatakan awalnya untuk Detail Engineering Design (DED) atau detail gambar kerja pelabuhan tersebut dianggarkan melalui APBN Perubahan 2020 namun karena COVID-19 maka hal tersebut tidak dapat terealisasi.

Oleh sebab itu, lanjutnya Pemerintah Kota Pariaman akan mengalokasikan anggaran melalui APBD 2021 untuk DED pelabuhan tersebut yang selanjutnya dipresentasikan kepada pemerintah pusat.

"Setelah diusulkan maka diharapkan pembangunan fisiknya dimulai pada 2022," ujarnya.



Wisata dan ekonomi bahari di Pariaman

Bicara tentang wisata bahari di Pariaman ternyata tidak saja tentang Pulau Angso Duo dengan puluhan kapal wisata menuju ke sana. Namun sejumlah pemilik kapal dan komunitas sudah banyak menyediakan jasa mengantarkan wisatawan ke pulau-pulau serta memancing di lautan, dan bahkan jasa wisata menyelam di perairan Pariaman.

Salah satu komunitas pecinta alam bawah laut di Kota Pariaman Tabuik Diving Club (TDC) salah satunya.  Ketua TDC, Tomi Syamsuar mengatakan pihaknya sering membawa wisatawan untuk menyelam dan mengunjungi pulau di daerah Kota Pariaman. 

Komunitas tersebut pun juga menyediakan makanan khas Pariaman yang dimasak oleh warga setempat untuk disuguhkan kepada wisatawan. Hal tersebut dilakukan agar warga setempat juga dapat menikmati dampak positif dari wisata bahari yang saat ini tidak saja digiatkan oleh pemerintah.

Ia berharap keindahan lautan di Kota Pariaman diketahui masyarakat luas sehingga kunjungan wisatawan semakin meningkat serta masyarakat sadar akan pentingnya menjaga lingkungan yang tidak saja berada di daratan namun juga di lautan. 

Ia menyampaikan salah satu upaya menjaga lingkungan laut yaitu tidak membuang sampah ke sungai dan laut agar ekosistemnya tetap terjaga. Dengan laut terjaga maka kekayaan laut Indonesia dapat dinikmati oleh generasi berikutnya.


Potensi pengembangan wisata di Pariaman di tengah pandemi COVID-19

Deputi Destinasi dan Infrastruktur Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) Santosa Sungkari mengatakan wisata bahari berpotensi untuk dikembangkan pada masa pandemi COVID-19.

"Tren pariwisata sekarang mencari tempat wisata yang 'outdoor' (di luar) yaitu pantai, pulau, dan gunung. Pariaman memiliki pantai, pulau, dan gunung. Angkat itu tapi protokol dijaga," kata dia saat mengunjungi Kota Pariaman, Kamis (22/10).

Ia mengatakan jika sebelum pandemi COVID-19 sasaran utama pariwisata fokus pada jumlah kunjungan maka sekarang yang perlu ditingkatkan yaitu kualitas. Apalagi Pariaman memiliki komunitas yang menawarkan wisata menyelam untuk wisatawan sehingga hal tersebut dapat menambah potensi wisata di daerah itu.

"Ini yang perlu diangkat, sampaikan kepada masyarakat luas," katanya.

Namun, lanjutnya dalam masa pandemi COVID-19 wisatawan dan warga setempat harus menjaga protokol kesehatan agar tercipta rasa aman dan nyaman. Warga pun diminta memberikan pelayanan yang baik serta menyuguhkan atraksi kesenian yang berbasiskan kearifan lokal kepada wisatawan.

"Berikan kenangan menarik kepada wisatawan agar mereka mau datang kembali ke Pariaman," tambahnya.


VIDEO