Penelitian psikologi sastra ini difokuskan pada masalah tekstual dengan menggunakan pendekatan tekstual untuk mengkaji aspek psikologis tokoh dalam karya sastra. Terkait teori yang digunakan yaitu pengertian sastra dan psikologi sastra. Sedangkan yang dibahas di sini yaitu temuan dan pembahasan
A. Temuan
1. Tokoh
Tokoh pada cerpen "Kue Itu Memakan Ayahku" yaitu aku dan ayah. Keduanya muncul saat pengarang menuliskannnya berulang kali. Berikut salah satu kutipan tersebut.
“Di kantor, kita bisa menjadi apa saja,” terang ayah saat aku mengemukakan kebingunganku.
Sedangkan tokoh lainnya tidak mengambil peran berarti. Contohnya saja bos,
Ayah terkekeh. “Lah, namanya saja bekerja, ya tergantung bos butuh tenaga kita sebagai apa.”
2. Latar Tempat dan Waktu
a. Latar tempat pada cerpen tersebut yaitu pusat pemberlanjaan, dapur, dan rumah.
"Namun, seminggu setelah itu, khayalanku tentang bos ayah buyar, saat kami secara tak sengaja bertemu dengannya di pusat perbelanjaan."
"Ibu menceritakan ini padaku saat kami sibuk di dapur, memasak bolu nanas favorit ayah."
b. Latar waktu pada cerpen tersebut yaitu seminggu sebelumnya dan seminbgu serelahnya.
"Itu ayah ucapkan padaku tepat satu minggu setelah ia diangkat menjadi juru potong kue di kantornya."
"Namun, seminggu setelah itu, khayalanku tentang bos ayah buyar, saat kami secara tak sengaja bertemu dengannya di pusat perbelanjaan."
3. Aspek Psikologis yang Dibahas
Menurut Freud (dalam Suryabrata, 2012:124), kepribadian terdiri atas tiga aspek, yaitu: id, ego, dan superego. Berikut temuan terkait ketiga hal tersebut.
a. Aspek psikologi bos terhadap ayah
1) id
Bos dalam cerpen tersebut menetapkan jabatan anak buahnya sesuai keninginannya.
Ayah terkekeh. “Lah, namanya saja bekerja, ya tergantung bos butuh tenaga kita sebagai apa.”
2) ego
Dengan kekuasaan yang dimiliki bos maka anak buahnya bisa ditunjuk menjabat apa saja.
"Di kantor, kita bisa menjadi apa saja,” terang ayah saat aku mengemukakan kebingunganku. “Kadang-kadang, seorang sarjana ekonomi bisa menjadi tukang ketik surat. Sarjana teknik sipil bisa jadi tukang fotocopy.” Aku ingat persis, ayah tersenyum lebar saat mengucapkan kalimat itu padaku.
3) superego
Dengan kekuasaan yang dimiliki tokoh bos maka, tokoh ayah bisa ditetapkan sebagai tukang potong kue.
"Itu ayah ucapkan padaku tepat satu minggu setelah ia diangkat menjadi juru potong kue di kantornya."
-
-
“Jadi, bos ayah butuh tukang potong kue?”
Ayah mengangguk. Aku bergidik....
b. Aspek psikologi ayah terhadap aku
1) id
Ayah ingin mengatakan kepada aku sebagai anaknya bahwa ia adalah pejabat penguasa anggaran di kantornya kepada anaknya. Secara umum bagi bagi kue dapat diartikan bahwa yang bersangkutan yang bisa memperuntukkan anggaran berdasarkan keinginannya.
“Pelan-pelan, aku akan mati karena dimakan sebuah kue.”
"Itu ayah ucapkan padaku tepat satu minggu setelah ia diangkat menjadi juru potong kue di kantornya."
2) ego
Upaya untuk menyampikan bahwa ia adalah pejabat penguasa anggaran di kantornya kepada anaknya yaitu dengan menyampaikannya langsung.
"Itu ayah ucapkan padaku tepat satu minggu setelah ia diangkat menjadi juru potong kue di kantornya."
3) superego
Apa yang diinginkan oleh tokoh ayah terhadap tokoh aku akhirnya terujudkan yaitu tokoh ayah meinginkan tokoh aku mengetahui apa yang barua saja dikerjakannya.
" Awalnya aku bingung, kok bisa ayah menjadi juru potong kue, padahal kata ibu, ayah seorang akuntan yang hebat."
-
-
-
"Aku jadi ingat ucapan ayah seminggu setelah dia diangkat bosnya menjadi juru potong kue di kantornya, “pelan-pelan, aku akan mati karena dimakan sebuah kue.”
Sumber cerpen dan gambar
https://lakonhidup.com/2018/03/04/kue-itu-memakan-ayahku/
