Sumpah Untuk Promosi



  Di zaman mileneal ini sebagian besar peringatan dan perayaan dimanfaatkan untuk mendongkrak popularitas. Tidak hanya untuk suatu tokoh namun juga untuk lokasi yang ingin dikenalkan kepada masyarakat luas. 

     Sebut saja peringatan Hari Pers Nasional (HPN) yang terakhir dilaksanaka di Kota Padang, Sumatera Barat (Sumbar). Tema yang diangkat pada peringatan tersebut yaitu "Meminang Keindahan di Padang Kesejahteraan".

     Menurut kabar tema itu diambil karena Pemerintah Sumbar ingin mengenalkan keindahan alam yang dimiliki provinsi itu kepada masyarakat luas. Apalagi tamu yang datang ke HPN itu ialah para wartawan yang diharapkan membuat berita tentang keindahan dan wisata di Sumbar. Namun hasilnya masih ditunggu hingga sekarang. 

     Kini kita beranjak ke tingkat lebih kecil yaitu setara kota dan kabupaten, kecamatan hingga tingkat nagari. Semenjak beberapa tahun lalu Pemerintah Kota Padang memusatkan kegiatan di Pantai Padang yang saat ini telah dikelola dengan apik. Tujuannya sama yaitu agar orang datang melihat perkembangan pembangunan pantai tersebut. 

 Begitu juga yang dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Padang Pariaman yang mana melaksanakan wirid setiap Jumat pertama di awal bulan di Masjid Raya Syekh Burhanuddin. Tujuannya agar masjid itu termanfaatkan lebih maksimal dan mempromosikan wisata Cagar Budaya Makam Syekh Birhanuddin yang terletak di Kecamatan Ulakan Tapakis.

    Pada 28 Oktober lalu, sejumlah pemuda di Nagari Kampuang Tanjuang Koto Mambang Sungai Durian, Kabupaten Padang memanfaatkan hari Peringatan Sumpah Pemuda untuk upacara bendera dan mengibarkan bendera raksasa di Puncak Mandiangin. Lokasi tersebut sedang dipersiapkan menjadi objek wisata yang potensial untuk menarik wisatawan.



  Dipilihnya lokasi tersebut yaitu untuk mengenalkan ke masyarakat luas bahwa Puncak Mandiangin memiliki keindahan yang tidak kalah dengan Nagari Pariangan di Tanah Datar. Dari puncak tersebut wisatawan dapat melihat pedesaan mulai dari rumah, masjid, hutan dan bukit barisan. Bahkan Gunung Tinggo pascalongsor akibat gempa 2009 juga terlihat jelas dari objek wisata itu.

  Tidak tanggung-tanggung agar kegiatan pemuda tersebut tersebar ke tingkat nasional, sejumlah wartawan dari media lokal dan nasional pun diundang, yaitu TVRI, LKBN Antara, SCTV, TVOne, Padang TV, Covesia.com dan lain-lain. Hasilnya berita pengibaran bendera tersebut tersiar di media nasional bahkan berita dari LKBN Antara di kutip lebih dari lima media nasional.

   Lalu apakah boleh setiap peringatan yang seharusnya  menjadi momentum untuk mengingat jasa dan perjuangan dimanfaatkan mempromosikan suatu tempat? Jika dikaitkan dengan azas manfaat maka hal tersebut boleh-boleh saja dan bahkan dianjurkan. Dalam hal ini kita menanamkan jiwa cinta tanah air dan berupaya untuk bangkit dari keterpurukan.

   Apa yang dilakukan oleh pemuda Padang Pariaman tersebut tentu berusaha untuk bangkit agar daerahnya terlepas dari kemiskinan dengan memanfaatkan potensi yang ada. Salah satu potensi tersebut yaitu menjadikan Puncak Mandiangin sebagai destinasi wisata baru di Padang Pariaman. Dengan potensi tersebut dimanfaatkan dengan baik maka perekenomian masyarakat akan semakin baik.

  Tentu agar objek wisata itu dikenal oleh wisatawan baik dalam maupun luar negeri maka diperlukan berbagai cara. Salah satunya dengan melaksanakan peringatan Sumpah Pemuda dan pengibaran bendera raksasa dengan ukuran 30x18 meter. Namun tentunya tidak meninggalkan makna dari sumpah pemuda itu sendiri.

 Bisa juga diartikan pemuda-pemuda tersebut bersumpah untuk memajukan nagarinya melalui objek wisata yang dimiliki. Namun mulai sekarang pemuda-pemuda tersebut harus lebih kreatif sehingga destinasi itu menjadi lebih menarik dan dikunjungi oleh banyak wisatawan.


Video