![]() |
| Pekerja akan menimbang serat sabut. |
Padang Pariaman merupakan kabupaten yang berada di Sumatera Barat. Kabupaten ini mampu menghasilkan kelapa 35,6 ribu ton pada 2017 dan menjadi daerah penghasil kelapa terbesar di provinsi itu. Kecamatan yang paling banyak menghasilkan kelapa di kabupaten itu yaitu Kecamatan Sungai Geringging dengan produktivitas 6,4 ribu ton per tahun, lalu disusul Kecamatan IV Koto Aur Malintang dengan jumlah produksi kelapa 3,4 ribu ton per tahun dan dilanjutkan Kecamatan Ulakan Tapakis yaitu 2,7 ribu ton per tahun.
Kelapa tersebut tidak saja untuk memenuhi kebutuhan warga setempat namun juga dijual ke berbagai daerah di antara Kota Padang, Kota Pariaman, Kota Pekanbaru, bahkan Jakarta. Selain dijual dalam bentuk bahan baku, petani setempat juga mengolahnya menjadi virgin coconut oil (VCO) atau minyak kelapa murni. Bahkan salah satu kelompok tani di daerah itu mampu memproduksi VCO sebanyak dua ton per bulan yang pemasarannya ke Yogyakarta, Pekanbaru, dan Padang
Kelapa tersebut tidak saja dimanfaatkan untuk diambil dagingnya untuk gulai dan minyak namun juga batok untuk arang, lidi untuk sapu, daun untuk ketupat, hingga batang untuk rumah. Sayangnya sabutnya hanya sebagai limbah dan menjadi sarang kalajengking serta lipan. Solusinya hanya dibakar namun hal tersebut juga tidak menghasilkan manfaat.
Oleh karena itu, beberapa tahun terakhir pelaku industri di Padang Pariaman memanfaatkan sabut kelapa untuk diekspor ke luar negeri. Harga sabut kelapa tersebut yaitu Rp2.350 per atau Rp2.350.000 per ton-nya. Setidaknya ada empat pelaku industri sabut di daerah itu yang menghasilkan 250 ton per bulan serat sabut kelapa atau serabut. Serat-serat itu dijual ke sejumlah negara di antaranya Cina.
Lalu bagaimana proses pengolahannya? Sabut yang telah dipisahkan dengan kelapa dihancurkan guna memisahkan serat dengan serbuknya. Lalu serabut itu disaring agar serat dengan serbuk benar-benar terpisah. Setelah itu serat dijemur guna mengurangi kadar airnya. Tahap akhir yaitu pemaketan dengan cara memadatkan serat tersebut sehingga beratnya menjadi 90 sampai 97 kilogram per bal-nya. Serbuk sabut juga dijual ke sejumlah perusahaan di Pekanbaru dengan harga Rp1.600 per kilogramnya.
Kepala Dinas Penanaman Modal Pelayanan Terpadu dan Perisdustrian Kabupaten Padang Pariaman, Hendra Aswara mengatakan pihaknya saat ini sedang mencari pelaku industri pengolahan sabut kelapa untuk ditawarkan ke pada investor.
"Investor telah kita tawarkan untuk investasi di Padang Pariaman untuk sabut dan mereka meminta pelaku industri sabut yang bisa menghasilkan serabut kelapa 250 ton per minggu," ujar dia.
Namun, saat ini pihaknya masih mencari pelaku industri pengolahan serabut kelapa yang mampu menghasilkan sebanyak yang diminta investor. Saat ini pihaknya juga sedang mengupayakan pengoptimalan pemanfaatan kelapa, mulai dari menjadi VCO dengan membuat rumah VCO lalu mendatangkan investor untuk VCO dan sabut.
Foto
1. Pekerja memisahkan sabut dengan kelapa.
2. Sabut dimasukkan ke dalam mesin untuk dihancurkan sehingga terpisah serat dengan serbuk.
3. Penyaringan guna memisahkan serat dengan serbuk
4. Pengeringan dengan cara dijemur
5. Pemadatan guna mempermudah pengiriman
6. Ditimbang





