Mentari perlahan bersembunyi di balik cemara di Pantai Ulakan. Kerumunan orang mulai berdatangan ke kawasan Makam Syekh Burhanuddin di Kecamatan Ulakan Tapakis, Padang Pariaman, Sumatra Barat (Sumbar). Memadatkan dan menyesakkan kawasan yang menjadi cagar budaya itu.
Buyung yang baru datang bersama anak dan istrinya perlahan menyeruak di antara keramaian. Mereka sempat terhenti saat memandang masih ada titik keramian yang harus dilewati.
Di gerbang kedua memasuki kawasan makan itu ia meletakkan anaknya yang sejak tadi digendong. Padahal baru saja mereka melewati kerumanan orang berjualan yang ramainya seperti pasar saat lebaran. Hal ini ditemui sebelum memasuki gerbang pertama hingga gerbang ke dua kawasan makam.
Di sana menjadi pasar dadakan yang tersedia berbagai jenis dagangan. Mulai dari camilan khas Piaman, di antaranya sala lauak, kripik, juadah. Ada juga ada baju, kerajinan tangan, dan obat tradisonal.
Sambil berjalan, perlahan Buyung memandangi sejumlah terpal biru yang dipasang sebagai tenda yang digunakan peziarah untuk berteduh dari panas dan embun malam yang akan mereka lewatkan.
Tiba lokasi makam, orang-orang berdesakan untuk memasuki ruangan di mana lokasi Syekh Burhanuddin yang merupakan tokoh penyebar agama Islam di Minangkabau itu dimakamkan.
Kondisi ini dapat ditemukan pada saat tradisi Basapa yang dilaksanakan oleh jamaah Tarikat Syattariyah pada Rabu, di atas tanggal 10 bulan Safar. Mereka datang untuk berziarah ke makam Syekh Burhanuddin sebagai bakti atas jasa tokoh tersebut dalam menyebarkan agama Islam.
Qadi Nagari Ulakan, Ali Imran mengatakan tradisi ziarah bersama ini rutin dilaksanakan setiap tahun, atau setiap di atas 10 Safar yang juga merupakan tanggal wafatnya Syekh Burhanuddin pada 1111 hijriah
"Jadi pada saat itu Syekh Burhanuddin wafat," katanya.
Ia mengatakan peziarah tersebut tidak saja datang dari dalam Sumbar namun juga dari luar provinsi itu. Di antaranya Riau, Medan, Jambi, Jakarta bahkan Malaysia.
"Pokoknya wilayah perantauan yang ada suku Minangnya," ujarnya.
Para peziarah itu berdatangan untuk melakukan zikir, membacakan tahlil dan tahmid untuk mendoakan Syekh Burhanuddin sebagai orang yang berjasa dalam menyebarkan agama Islam di Minangkabau.
Jamaah Syattariyah itu ada yang datang untuk beberapa jam saja, atau pergi setelah menziarahi makam, namun banyak juga yang bermalam untuk berzikir di lokasi makam, dan baru kembali ke rumah masing-masing selepas shalat Subuh.
Sebelumnya Dinas Pariwisata Sumbar akan menjadikan tradisi "Basapa" sebagai ikon Kabupaten Padang Pariaman dengan menjadikannya wisata religi untuk tingkat provinsi itu.
Kepala Seksi Promosi Konvensi Hisentif Even dan Minat Khusus Dinas Pariwisata Sumbar Riza Chandra mengatakan Basapa memiliki potensi yang tidak ada di daerah lain sehingga diperlukan usaha agar potensi tersebut dapat dimanfaatkan dengan maksimal.
Ia mengatakan tradisi yang dilaksanakan setiap tahun tersebut dapat dimanfaatkan untuk menarik wisatawan ke Sumbar.
Kalifah ke-15 Syekh Burhanuddin Heri Firmansyah menyebutkan dalam tradisi Basapa dilakukan dengan tiga kegiatan yaitu pertama mendatangi Masjid Tuo tempat Syekh Burhanuddin mengajar ilmu agama Islam.
Yang kedua yaitu mendatangi lokasi penyimpanan barang-barang peninggalan Syekh Burhanuddin dan yang ketiga melakukan ziarah ke makam syekh tersebut di Ulakan Tapakis.
Untuk menarik minat wisatawan ke daerah itu Pemerintah Kabupaten Padang Pariaman mempercantik kawasan makam serta membangun Masjid Agung Syekh Burhanuddin.
Meskipun jumlah kunjungan wisatawan semakin banyak namun tidak merubah makna tradisi tersebut dan membuat jamaah canggung dalam melaksanakan tradisi.
Bahkan jumlah jamaah yang mengikuti tradisi tersebut semakin banyak. Hal itu dapat dilihat dari semakin sesaknya kawasan tersebut setiap tahunnya.
Bahkan tahun ini Polres Padang Pariaman mengerahkan 75 personelnya guna melancarkan lalu lintas dan mengamankan tradisi Basapa dari perilaku kriminal di antaranya pencopetan.
VIDEO
Klik untuk subscribe youtube terkait.
VIDEO

