Panas tidak terasa terik ketika kami tiba Nagari Limpato Sungai Sariak, Kecamatan VII Koto, Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat. Saat itu para petani telah usai memetik jambu biji merah di kebun dengan luas lahan delapan hektare. Mereka membersihkan jambu biji itu dan menyortirnya agar bisa dikirim ke pelanggan sesuai ukuran ke sejumlah daerah. Mulai dari Padang, Pariaman, Padang Panjang, Jambi, dan Riau.
Tidak berapa lama berselang, seorang wanita cantik datang dengan motor metiknya. Dia datang untuk membeli jambu biji untuk dikirim ke Padang. Setelah memilih jambu biji yang yang diminati ia pun meminta petani untuk menimbangnya. Rp10 ribu perkilogramnya.
Adalah agrowisata Ariza Farm yang telah berdiri sejak 2014 lalu. Berdirinya agrowisata tersebut karena pemiliknya tidak ingin memanfaatkan potensi kebunnya. Menurutnya potensi yang pantut dikembangkan di kebun tersebut yaitu agrowisata jambu biji merah. Tidak tanggung-tanggung, dia pun juga membuat aula untuk kegiatan dan penginapan.
Kedatangan kami di agrowisata ini tidak dilewatkan dengan percuma. Kami pun mencoba memetik jambu biji dari batangnya agar bisa memilih jambu biji yang kami minati. Tentu untuk mengikuti wisata tersebut kami harus membayar Rp5 ribu per orang, namun hal itu tidak berlaku untuk orang yang tidak memetik jambu biji merah dari batangnya.
Untuk dapat menikmati jambu biji hasil petikan tadi, kami harus menimbangnya dan membayarnya sesuai dengan harga yang ditetapkan. Saat itu kami lebih memilih jambu biji yang setengah matang sehingga rasanya renyah.
Usai mencuci buah yang baru dipetik, kami pun langsung menyantapnya. Renyah dan segar karena buah itu baru kami petik. Haus dan lapar bisa terbayar bila menyantap buah yang baru dipetik ini.
Menurut pemilik agrowisata tersebut jumlah kunjungan wisatawan itu bisa mencapai 50 orang per minggu. Wisatawan tersebut biasanya datang di akhir pekan baik dari Pariaman, Padang, maupun Bukittinggi.
Namun ada peraturan yang dipertahankan di agrowisata itu hingga sekarang. Peraturan tersebut yaitu petani dan wisatawan dilarang memasuki kebun ketika memasuki kebun. Bagi wisatawan yang tidak shalat maka diminta menunggu di rumah bundar yang merupakan bangunan untuk informasi terkait agrowisata dan jambu biji merah.
Untuk keamanan jambu biji yang dikonsumsi, hingga saat ini pemilik kebun tidak menggunakan bahan kimia pada batang dan buah. Bahkan untuk pupuk dirinya menggunakan pupuk kandang.
Galery



